Karena itu, rangkaian kegiatan turut menghadirkan simposium antropologi yang mengangkat hubungan antara masyarakat, kebudayaan dan ekosistem di sekitar Gunung Slamet.
Tak berhenti pada forum diskusi, Gerakan 30 SS juga akan diisi dengan kegiatan langsung di lapangan berupa aksi bersama lingkungan hidup. Lokasi yang disebut dalam agenda di antaranya kawasan DAS Sungai Pangkon, Situs Curug Ceheng dan Curug Lawa Gandatapa.Nuansa budaya dan seni juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Penyelenggara menyiapkan Art Fest yang akan menghadirkan musik blues, folk akustik, musik etnik, tari tradisional hingga seni lukis.
Melalui rangkaian tersebut, Gerakan 30 SS mencoba menempatkan pembicaraan mengenai Gunung Slamet dalam perspektif yang lebih luas. Bukan hanya soal konservasi hutan, tetapi juga menyangkut regulasi, tata kelola lahan, masyarakat dan kebudayaan yang tumbuh di kawasan sekitarnya.
Dalam materi publikasi tercantum keterlibatan Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional bersama Yayasan Jaga Rimba Indonesia dalam kegiatan tersebut.
Gerakan ini sekaligus menjadi ruang konsolidasi bagi berbagai pihak untuk membicarakan seperti apa pengelolaan Gunung Slamet ke depan, terutama agar kepentingan lingkungan, masyarakat dan pemanfaatan kawasan dapat ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang berkelanjutan.
Sumber: Materi publikasi Gerakan 30 SS – September Slamet.


▶
▶
▶
▶
▶
▶
▶
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR